Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Makanan Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Ilmu Gizi


MAKANAN DAN FUNGSINYA





Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok bagi manusia. tubuh manusia terbentuk dari apa yang dimakannya. dari makanan itu pula dihasilkan tenaga atau energi yang perlu untuk kelangsungan hidup dan untuk aktivitas fisiknya. apabila tidak ada makanan. niscaya tidak ada kehidupan di dunia ini.

Selain untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan energi, makanan merupakan pula bagian dari kehidupan sosial budaya. kegembiraan, rasa kasih-sayang, rasa syukur, semuanya itu biasanya diungkapkan dengan selamatan yang menghidangkan berbagai makanan yang lezat-lezat.

Demikian juga dalam agama, makanan mempunyai tempat yang sangat penting; misalnya dalam Al-Qur'an kitab pegangan umat islam terdapat sejumlah ayat yang berbicara tentang makan dan makanan.

AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG MAKAN DAN MAKANAN

Kepedulian Allah Swt. sangat besar terhadap soal makanan dan aktivitas makan untuk makhluknya. Hal ini tercermin dari firmannya dalam Al-Qur'an mengenai kata tha'am yang berarti "makanan" yang terulang sebanyak 48 kali dalam berbagai bentuknya. Ditambah pula dengan kata akala yang berarti "makan" sebagai kata kerja yang tertulis sebanyak 109 kali dalam berbagai derivasinya, termasuk perintah "makanlah" sebanyak 27 kali. Sedangkan kegiatan yang berhubungan dengan makan yaitu "minum" yang dalam bahasa Al-Qur'an disebut syariba terulang sebanyak 39 kali. Betapa pentingnya makanan untuk kehidupan manusia, maka Allah Swt. mengatur bahwa aktivitas makan selalu diikuti dengan rasa nikmat dan puas, sehingga sering lupa bahwa makan itu bertujuan untuk kelangsungan hidup dan bukan sebaliknya, hidup umtuk makan. 

Sebagai kaum muslimin yang tinggal di negara di mana penduduknya mayoritas beragam islam, seyoginya kita mempelajari petunjuk-petunjuk tentang makanan yang tertulis dalam A-Qur'an. Contoh beberapa ayat yang berhubungan dengan makanan adalah :
1. Manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib. { QS An-Nahl (16):114, QS Al-Maidah (5) : 88, QS Al-Baqarah (2):68 dan QS Al-Muk minun (23):51}
2. Melarang makanan tertentu yang dianggap haram. {QS Al-Baqarah (2):68 dan QS Al-Maidah (5):3 dan  QS Al-An'am (6):145}
3. Ayat-ayat mengenai perintah makan selalu diikuti dengan perintah melakukan aktivitas tertentu.Terdapat tidak kurang dari 27 ayat yang berbicara tentang masalah ini.
4. dianjurkan agar tidak boleh makan berlebihan. {QS AlA'raf (7):31 dan QS Tha Ha (20):81}
5. "Hendaklah manusia memperhatikan makanannya", demikianlah anjuran yang tersurat dalam QS 'Abasa (80):24. 


ILMU GIZI, MAKANAN DAN KESEHATAN  



Ilmu Gizi merupakan ilmu yang relatif masih baru, walaupun perhatian terhadap hal-hal berkaitan dengan makanan sebenarnya telah terjadi sejak manusia mulai dengan kehidupannya. sejarah perkembangan ilmu gizi hingga menjadi ilmu yang mandiri, secara garis besar adalah sebagai berikut:
Tahun 400 sebelum Masehi, Hippocrates, Bapak Ilmu Kedokteran menganggap makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Ilmu Gizi baru diakui sebagai suatu cabang ilmu yang mandiri pada tahun 1926, ketika Mary Swartz Rose dikukuhkan sebagai profesor Ilmu Gizi pertama di Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat. Di Indonesia Ilmu Gizi mulai diperkenalkan dan diterapkan pada awal tahun 1950-an. Ilmu Gizi disebut juga Ilmu Nutrisi ( Nutrition Science ).
Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan. yang mengandung enam macam zat gizi itu, yaitu air, karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin dalam hubungannya dengan kesehatan dalam arti luas. kesehatan dalam arti yang luas berarti tidak hanya bebas dari penyakit, melainkan sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial sehingga mampu bekerja, berproduksi dan bersilaturahmi dengan sesama ( WHO). Ilmu Gizi meliputi Ilmu Gizi Dasar, Ilmu Gizi Masyarakat, Ilmu Gizi Olahraga dan Ilmu Gizi Klinik. penjelasan mengenai hal ini akan dipaparkan di bawah ini :

1. Ilmu Gizi Dasar
       Ilmu Gizi Dasar mempelajari makanan orang sehat dengan tujuan menghasilkan status gizi yang baik ( berat badan ideal, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk) dan kesehatan yang optimal. Makanan bagi orang sehat adalah "menu sehat dan seimbang" ( well balanced diet) yaitu ilma sempurna" dan kuantitasnya cukup sehingga dapat memenuhi kebutuhan tubuh. seorang yang sehat dapat bekerja dengan baik, tidak cepat lelah dan tidak mudah diserang penyakit. Untuk dapat menyusun menu sehat dan seimbang, harus mempunyai pengetahuan tentang bahan makanan dan pengetahuan mengenai kebutuhan manusia akan makanan. Pengetahuan tentang bahan makanan meliputi: zat-zat gizi apa saja yang terdapat dalam tiap-tiap bahan makanan, pengelompokan bahan makanan sesuai dengan zat-zat gizi yang dikandungnya serta fungsi zat-zat gizi itu dalam kaitannya dengan kesehatan.

2. Ilmu Gizi Masyarakat
       Ilmu Gizi Masyarakat merupakan bagian dari Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tujuan pertama adalah mempelajari kecukupan makanan suatu masyarakat atau bangsa, sehingga setiap anggota masyarakat itu mempunyai status gizi yang baik dan kesehatan yang optimal. Tujuan kedua adalah mempelajari pencegahan penyakit. Untuk menyediakan kecukupan pangan bagi suatu masyarakat dan meningkatkan kesehatan penduduknya, maka penyediaan pangan dan sarana kesehatan harus terjamin. Demikian juga sumber daya manusianya harus profesional dan terlatih.

3. Ilmu Gizi Olahraga
       Olahraga terdiri atas olahraga kesehatan dan olahraga prestasi. Olahraga kesehatan adalah olahraga bagi orang sehat agar dapat memelihara kesehatannya dan meningkatkan kebugaran jasmaninya ( physical fitness). Olahraga prestasi adalah olahraga bagi atlet atau olahragawan profesional atau atlet amatir yang akan bertanding dalam suatu kejuaraan tertentu, misalnya menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON), Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara ( South East Asean Games), Olahraga negara-negara Asia ( Asean Games ), Olimpiade atau kejuaraan olahraga lainnya. Untuk olahraga kesehatan, pengaturan makanannya sama dengan makanan untuk orang sehat, sedangkan untuk olahraga prestasi pengaturan makanannya mengikuti ketentuan-ketentuan Ilmu gizi Olahraga. Ilmu Gizi Olahraga adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan dan prestasi olahraga. Tujuannya ialah meningkatkan kemampuan fisik olahragawan sehingga dapat mencapai prestasi olahraga yang maksimum, sehingga dapat menjadi juara.

4. Ilmu Gizi Klinik
       Ilmu Gizi Klinik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara pengaturan makanan bagi orang sakit dan upaya penyembuhannya. Pengaturan makanan mencakup asupan makanan ( food intake ), pencernaan, penyerapan dan metabolisme zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan itu. untuk penyembuhan penyakit dibutuhkan pengetahuan dasar Ilmu Kedokteran yang menyangkut diagnosis dan pengobatan penyakit.

BADAN PENGELOLA PANGAN DAN GIZI







Mengingat betapa pentingnya masalah pangan dan gizi bagi kesejahteraan manusia, maka para pakar pangan dan gizi sepakat bahwa harus ada badan atau organisasi khusus yang mengelola masalah pangan dan gizi, sejak dari tingkat perorangan hingga tingkat dunia. Organisasi yang mengelola masalah gizi perorangan dan keluarga disebut tingkat mikro, misalnya Perkumpulan Kesejahteraan Keluarga ( PKK) tingkat Rukun Tetangga ( RT) dan Rukun Warga (RW) serta tingkat Kelurahan.
  
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai penelitian mengungkapkan bahwa fungsi makanan adalah sebagai berikut :

Menghasilkan tenaga atau energi yang dibutuhkan oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya dan untuk aktivitas jasmaninya. Energi ini diperlukan untuk kegiatan sehari-hari misalnya berjalan, bekerja, beribadah, memasak, menyapu dan berbagai pekerjaan fisik lainnya.

Selain dari pada itu, energi diperlukan juga untuk aktivitas internal tubuh yaitu untuk kegiatan organ-organ misalnya detak jantung, pernafasan, pengaliran darah, pengaturan suhu badan dan pencernaan makanan.

Makanan diperlukan pula untuk pertumbuhan badan, yaitu dengan membentuk semua sel-sel jaringan baru mulai dari kulit, rambut, otot-otot, tulang, saraf, darah, otak, dan organ-organ tubuh seluruhnya.

Makanan berfungsi pula dalam pembentukan enzim dan hormon yang mengatur berbagai proses kimiawi dalam tubuh misalnya mengatur keseimbangan asam-basa dan penghantaran rangsangan sistem saraf.

Makanan berperan juga sebagai pembentuk sitem kekebalan tubuh yang disebut antibodi atau imunitas yang bertugas mempertahankan tubuh terhadap berbagai kuman penyakit.

Makanan mempunyai fungsi membentuk cadangan energi dalam bentuk glikogen dan lemak.

Sebagian dari energi yang terbentuk diubah menjadi panas yang akan dipancarkan oleh tubuh ke lingkungan sekitarnya.

Di samping itu , makanan mempunyai pula fungsi sosial. Pernyataan rasa syukur, pengungkapan kasih sayang dan perayaan-perayaaan dinyatakan dengan makanan. Bagi kelompok masyarakat yang mampu, karena makanan memberi rasa nikmat, ada kecenderungan untuk makan berlebihan sehingga mengakibatkan gizi lebih ( overnutrition) dengan gejala kelebihan berat badan dan kegemukan. Sebaliknya, bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu dan daya belinya rendah, sehingga tidak dapat membeli bahan makanan yang cukup, akan menderita gizi kurang (undernutrition). Kedua fenomena tersebut yaitu gizi lebih dan gizi kurang merupakan gangguan kesehatan dengan berbagai dampak yang sangat merugikan.



Sumber Buku dari : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, 2006.
Penerbitan buku ini dikelola oleh :
Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Koordinator Penerbitan : dr. Hendra Utama, Sp.FK.
Disain Sampul dan Pelaksana : Zak Design
Penerbit  : Dr. Hj. Tien Ch. Tirtawinata Sp. GK

Daftar Pustaka :

Dr. Hj. Tien Ch. Tirtawinata Sp.GK.2006.Makanan Dalam Al-Qur'an dan Ilmu Gizi, Hal 1-6.

    

Hubungan Makanan dan Spiritual

Seluruh manusia berharap senantiasa sehat dan tidak ada satu pun penyakit  hinggap di tubuhnya. Pertumbuhan yang normal dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan baik pula sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang seimbang. Terkait hal ini, Rasulullah Saw mengatakan, "Tidak ada kehidupan tanpa kesehatan." Islam memandang salah satu faktor penting yang menjaga kesehatan adalah menghindari makanan haram. Sebagaimana dijelaskan dalam acara sebelumnya, Islam menilai daging babi sebagai makanan haram dan menjadi pemicu sejumlah penyakit fisik serta mental.
Agama Islam menilai makanan halal adalah berbagai jenis makanan yang bermanfaat bagi fisik dan mental menusia. Selain itu, Islam juga melarang manusia mengkonsumsi makanan dan minuman yang merugikan diri manusia sendiri.
Daging babi termasuk jenis makanan haram. Jika dicermati lebih jauh, babi adalah hewan yang hidup di lingkungan yang kotor. Bahkan babi seringkali memakan kotorannya sendiri maupun hewan lain. Dengan demikian, lambung babi menjadi sarang berbagai macam mikroba. Beragam mikroba ini menjalar ke seluruh tubuh babi hingga merasuki daging dan darah. Tidak mengherankan jika al-Quran mengharamkan daging babi dan menyebutnya merugikan manusia bersama dengan larangan memakan darah dan bangkai.
Sebaliknya al-Quran menyarankan manusia mengkonsumsi makanan yang halal dan sehat seperti madu. Al-Quran menyebut madu sebagai obat berbagai macam penyakit yang mengandung berbagai faktor yang bisa menjaga kesehatan manusia. Kini, para peneliti yang mengkaji kehidupan lebah menemukan bahwa lebah memilih bunga dan pohon terbaik serta air terbersih bagi kesehatannya. Hewan ini tidak pernah menggunakan air limbah maupun kotoran hewan lain. Jika lebah minum dari air yang kotor, maka lebah lainnya menghalangi supaya tidak memasuki sarang, bahkan membunuhnya, sehingga dihasilkan madu terbaik dan alami yang tidak bercampur dengan kotoran.
Ilmu gizi saat ini telah membahas pengaruh makanan terhadap mental dan moral manusia. Dalam Islam, berbagai hadis menjelaskan pengaruh makanan di antaranya  daging hewan bagi mental manusia. Saking besarnya pengaruh tersebut, hewan yang paling sering dikonsumsi manusia menyebabkan sifat-sifat kehewanan tersebut berpindah ke dalam diri manusia. Misalnya memakan daging babi menyebabkan berpindahnya sifat-sifat buruk babi ke dalam tubuh manusia. Sebelum Islam turun, larangan memakan daging babi juga diberlakukan pada masa Nabi Musa as. Injil menyebut para pendosa menyerupai babi.
Daniel S. Shapiro, M.D. dari Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center, Massachusetts mengungkapkan lebih dari 25 penyakit yang bisa dijangkiti dari babi, di antaranya anthrax, ascaris suum, botulism dan brucella suis. Daging babi mengandung cacing pita (taenia solium). Tidak hanya itu, lemak babi mengandung kolesterol paling tinggi dibandingkan dengan lemak hewan lainnya. Darahnya mengandung asam urat paling tinggi. Asam urat menimbulkan berbagai penyakit pada manusia.
Babi sangatlah berlemak. Ketika dicerna, lemak tersebut memasuki peredaran darah dan menyebabkan pengerasan pembuluh darah nadi, meningkatkan tekanan darah dan serangan jantung (coronary infarct). Selain itu, babi mengandung suatu racun yang dinamakan "Sutoxin." Kelenjar getah bening dipaksa bekerja lebih keras untuk mengeluarkan racun ini dari tubuh. Hal ini ditandai dengan membengkaknya kelenjar getah bening, khususnya pada anak-anak. Jika penyakit ini berlanjut, semua kelenjar getah bening akan membengkak, suhu badan naik dan rasa sakit mulai terjadi.
Hormon pertumbuhan dengan kadar berlebihan  dalam daging babi mengakibatkan pembengkakan dan kelainan bentuk jaringan. Hal itu dapat menimbulkan penimbunan lemak secara tiba-tiba dan berlebihan. Orang yang memakan babi pada umumnya memiliki bahaya lebih besar mengidap kegemukan. Hal itu berkemungkinan mendorong pertumbuhan yang tidak wajar pada tulang hidung, rahang, tangan dan kaki. Hal paling berbahaya mengenai hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih adalah terbukanya jalan bagi penyakit kanker.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa daging babi mengandung zat yang dikenal sebagai "histamin" dan "imtidazol". Kedua unsur ini menyebabkan gatal berlebihan. Zat-zat ini juga membuka jalan bagi penyakit-penyakit kulit menular seperti eksim, dermatitis dan neurodermatitis. Zat-zat ini juga meningkatkan bahaya terjangkiti bisul, radang usus buntu, penyakit kantung empedu dan infeksi pembuluh darah nadi. Karenanya, para dokter menyarankan penderita penyakit jantung agar menghindari makan babi.
Para pakar juga menemukan berbagai penyakit lain akibat mengkonsumsi daging babi  di antaranya penyakit cacing pita. Cacing-cacing trichina yang berada dalam daging babi memasuki peredaran darah melalui lambung dan usus dan menyebar ke seluruh tubuh. Cacing trichina terutama mendiami jaringan otot pada daerah rahang, lidah, leher, tenggorokan dan dada.
Selama satu bulan, cacing itu bertelur dari 10 hingga 15 ribu. Cacing ini tidak akan mati meski di daging babi di masak dalam suhu panas tinggi sekalipun. Para pakar menuturkan, setelah cacing ini masuk ke tubuh manusia, tidak ada jalan lain untuk mengeluarkannya. Kemudian ,cacing trichina tersebut berkembang biak di dalam tubuh manusia. Setiap kilogram daging babi terdapat 400 juta cikal bakal cacing trichina. Setelah daging babi dikonsumsi, trichina langsung memasuki lambung dan berkembang biak.
Cacing trichina menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot gerak mengunyah, berbicara dan menelan. Hal ini juga menimbulkan penyumbatan pembuluh darah balik (vena), meningitis dan infeksi otak. Kasus-kasus parah bahkan dapat berujung pada kematian. Berjangkitnya wabah cacing trichina telah diamati dari waktu ke waktu di Swedia, Inggris dan Polandia, walaupun sudah dilakukan pengawasan kesehatan hewan.
Inilah hikmah di balik larangan Al-Quran memakan daging babi. Al-Quran sebanyak empat kali menyinggung larangan memakan daging babi. Di antaranya dalam suarat al-Maidah ayat tiga. Sejatinya, larangan memakan daging babi dalam ajaran agama ilahi merupakan salah satu mukzijat keilmiahan agama samawi. Menariknya, hukum tersebut dikeluarkan di saat umat manusia ketika itu belum mengetahui rahasia mengapa daging babi diharamkan.
Para pakar medis mengungkap berbagai penyakit fisik dan mental akibat mengkonsumsi daging babi di negara-negara non muslim. Sejatinya, mengkonsumsi makanan yang sehat dan halal sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam, selain menjaga kesehatan fisik juga menjamin kesehatan moral dan mental manusia. (IRIB Indonesia)